Posted on
February 05, 2009 by
Dhika
Halte bus itu dipakai untuk tempat nunggu bus. Tetapi halte bus itu sering tidak dipakai untuk menunggu bus. Bahkan orang sering nunggu bus di sembarang tempat. Jadi kelihatannya percuma dibikinin halte bus.
Untuk halte yang satu ini adalah halte bus di Harmoni, Jak-Pus. Halte ini adalah halte bus terbesar di dunia. Halte besar ini tidak percuma untuk dibuat.
Saat aku memasuki halte itu ,halte ini ruangannya benar2 besar dan panjang. Karena bentuknya yang panjang, maka aku menganggap bahwa halte ini paling enak buat lari-larian di dalamnya (heeee….!). Itu pun kalo keadaan halte lagi sepi penumpang. Tapi kalo lagi rame, terutama saat jam orang pulang / pergi kerja, keadaan halte itu panas sekali. Biasanya kalo di halte itu sampe 15 menitan, dari masuk halte sampai dapet busnya.
Udah ngantrinya dorong2an pula.
Trus gak taw nih kapasitas haltenya bisa nampung brapa orang. Soalnya itu kan di atas sungai. Kalo misalnya jatuh, pasti heboh sekali deh.
Category
Metropolitan
Posted on
February 03, 2009 by
Dhika
Selasa, 13 Januari 2009 – Menurut berita, kemacetan di Jakarta adalah kejadian luar biasa dan diperlukan perubahan perilaku masyarakat selain upaya pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan pemerintah, antara lain kesediaan bergantian menggunakan jalan.
Kalau masyarakat tak juga mengubah perilaku sebagai pengguna jalan yang tertib, Prijanto mengatakan, kemacetan di Jakarta pada 2014 tak dapat diurai lagi alias terjadi stagnasi transportasi. Jadi pemerintah hanya bisa mengimbau bagi pengguna jalan, jangan menggunakan jalur busway, taatilah larangan parkir, kalau semuanya sadar niscaya pasti keteraturan itu ada karena terbiasa.

Perubahan perilaku masyarakat yang dimaksud, menyangkut jam masuk sekolah bagi siswa pukul 06.30. Dampak program itu memang hanya 14 persen mengurai kemacetan di Jakarta, karena itu diperlukan kesadaran bagi semua pihak untuk dapat bergantian menggunakan jalan.
Sementara itu, beberapa pengelola gedung dan pengusaha mendukung imbauan pemerintah terkait pengaturan jam masuk kerja untuk swasta di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Jadi, kalo pada gak maw gantian, gimana bisa bebas macet dong…? kalo banyak yg egois gitu, & ga mentaati aturan.
Category
Berita, Metropolitan
Posted on
February 03, 2009 by
Dhika
8 Januari 2009 – Pola perkembangan kota atau urbanisasi di Jakarta mengarah kepada pola pertumbuhan yang sangat cepat. Namun, pertumbuhan tersebut diikuti pula dengan mengorbankan lingkungan. Hal inilah yang membuat masalah di Jakarta tidak pernah selesai.
Dari dulu hingga sekarang pola pertumbuhan Kota Jakarta sama saja, yakni terjadi integrasi antara daerah pengembangan baru dengan daerah utama. Hal ini mempercepat munculnya kawasan low income neighbourhood seperti permukiman rumah-rumah kumuh di bantaran Sungai Ciliwung.
Dulu sih sebenernya ada konsep Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur) sebagai daerah konservasi, kemudian Depok sebagai daerah pembangun terbatas, dan Jakarta dengan pembangunan lebih terbatas lagi, cuman sayangnya kita gak pernah disiplin.
Kalo maw mengatasi kondisi yg sudah terlanjur seperti ini, daya dukung lingkungan harus dikembalikan. Pemerintah harus tegas dalam melakukanya.
Sebenarnya sudah ada contoh, Sungai Kanda di Tokyo, Jepang, dan Sungai Han di Seoul, Korea Selatan, yang pulih kembali setelah mengalami pencemaran berat.

Category
Berita, Metropolitan